8 Gaya Komunikasi Orang Tua Yang Tanpa Sadar Bikin Anak Tidak Nyaman

Ilustrasi ibu sedang memarahi anak kecil dengan nada keras sambil berkata “Cepetan dong!”, menggambarkan gaya komunikasi orang tua yang tanpa sadar membuat anak merasa tidak nyaman.
Gaya komunikasi yang keras dan memerintah dapat membuat anak merasa tertekan serta kehilangan semangat.

Sabilulhuda, Yogyakarta: 8 Gaya Komunikasi Orang Tua Yang Tanpa Sadar Bikin Anak Tidak Nyaman – Kalau berbicara soal komunikasi antara orang tua dan anak, sering kali kita sebagai orang tua merasa sudah benar dalam berbicara. Namun tanpa sadar, justru cara kita dalam menyampaikan kata-kata bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi sang anak.

Menariknya, gaya komunikasi yang tidak sehat ini sering disebut gaya populer komunikasi, karena begitu sering dilakukan oleh banyak orang tua.

Padahal, kata-kata yang terdengar sepele itu bisa mempengaruhi emosi pada anak, bahkan hubungan jangka panjang antara orang tua dan si buah hatinya.

Gaya Populer Komunikasi Yang Sebaiknya Dihindari Orang Tua

1. Memerintah Tanpa Empati

Contohnya seperti:

“Cepetan dong!”
“Lama banget sih!”

Kalimat seperti ini memang bagi orang tua terdengar biasa biasa saja, tapi di telinga anak kalimat seperti itu terasa seperti perintah yang menekan. Anak justru bisa kehilangan semangatnya dan enggan bergerak cepat.

Coba kita ubah dengan kalimat yang lebih hangat dan halus, seperti:

“Nak, bisa lebih cepat sedikit ya? Bunda bantu, yuk!”

Nada yang lembut dan empati seperti contoh tersebut bisa membuat anak merasa dihargai, bukan diperintah.

Baca Juga:

2. Menyalahkan Dan Meremehkan

Tanpa sadar, kita sebagai orang tua sering mengatakan:

“Masa pakai sepatu aja enggak bisa?”
“Lihat tuh adik kamu aja bisa!”

Kalimat semacam ini bukan hanya menyalahkan, tapi juga meremehkan kemampuan anak tersebut. Efeknya? Anak jadi merasa tidak cukup baik. Kalau hal ini terus terjadi, rasa percaya dirinya bisa turun secara drastis.

Padahal, setiap anak itu berkembang dengan kecepatannya sendiri. Daripada orang tua menyalahkan, cobalah berikan dorongan:

“Coba pelan-pelan ya, Nak. Bunda yakin kamu bisa!”

3. Membandingkan Anak

Membandingkan anak, entah dengan saudaranya atau dengan masa lalu diri kita sendiri, sering kali dilakukan tanpa niat yang buruk. Misalnya:

“Bunda dulu sekolah jalan kaki loh, kamu naik motor masih ngeluh!”

Kalimat ini memang bisa jadi motivasi, tapi sering kali justru membuat anak itu merasa bersalah atau tidak cukup untuk berjuang. Maka kita lebih baik ceritakan pengalaman kita sebagai inspirasi, bukan sebagai pembanding.

“Bunda dulu pernah ngalamin hal serupa, loh. Yuk, sama-sama belajar sabar dan kuat.”

Ali Bin Abi Talib mengatakan: “didiklah anakmu sesuai dengan zamannya”

Jadi kita sebagai orang tua tidak bisa mendidik anak tersebut sesuai dengan yang kita alami. Tetapi yang lebih tepat kita mendidik anak tersebut sesuai dengan anak yang mengalaminya.

4. Memberi Label Negatif

Ini salah satu gaya komunikasi yang paling beresiko.

“Kamu penakut banget sih!”
“Pemalas!”

Label seperti ini bisa menempel di pikiran anak dan membentuk citra diri negatif. Kalau anak takut, lebih baik validasi dulu perasaannya.

“Kakak takut ya? Gak apa-apa, semua orang bisa takut. Yuk, Bunda temenin.”

Dengan cara yang seperti ini, anak merasa bahwa mereka dipahami dan belajar mengelola emosinya dengan sehat.

Baca Juga:

5. Mengancam Dan Menyudutkan

“Awas ya kalau enggak ngerjain PR!”
“Makanya, siapa suruh malas!”

Kata “awas” dan “makanya” terdengar tegas, tapi sebenarnya kata kata seperti itu membuat anak merasa tidak aman. Otak anak justru “membeku” saat merasa terancam. Akibatnya, mereka malah sulit berpikir dengan jernih atau menyerap pesan yang ingin kita sampaikan.

Cobalah ganti dengan pendekatan yang lebih solutif:

“Kalau PR-nya dikerjakan sekarang, nanti kita bisa main bareng setelahnya.”

6. Menyindir Dengan Nada Sarkastik

“Tumben banget cepat mandinya!”
“Hebat ya, baru kali ini enggak telat!”

Sindiran yang dibungkus dengan humor kadang dianggap sepele, tapi sebenarnya kalimat seperti itu bisa melukai perasaan anak. Mereka jadi bingung, apakah sedang dipuji atau diejek. Sebaiknya, berikan pujian yang tulus saja:

“Wah, kamu cepat banget hari ini! Terima kasih udah mandiri, ya!”

7. Terlalu Banyak Bicara Tanpa Memberi Ruang

Sebagai seorang ibu, mereka memang diberi kemampuan yang luar biasa dalam hal komunikasi. Dalam riset menyebutkan, bahwa wanita bisa mengucapkan hingga 16.000 kata per hari, jauh lebih banyak dari pada pria yang rata-rata hanya 7.000 kata. Itulah kenapa kadang kita ingin selalu menasihati dan menjelaskan dengan panjang lebar.

Tapi ingat, anak itu tidak selalu butuh banyak kata kata, kadang mereka hanya butuh didengarkan. Cukup dengan kalimat singkat seperti:

“Kamu sedih ya, Nak? Ceritain ke Bunda, yuk.”

Mendengarkan dengan rasa empati sering jauh lebih efektif daripada menasihati tanpa jeda.

8. Memahami Perbedaan Gaya Komunikasi di Rumah

Bukan hanya antara orang tua dan anak, perbedaan gaya komunikasi juga sering kali menjadi sumber kesalahpahaman antara suami dan istri. Misalnya, istri menulis pesan panjang di chat, tapi suami cuma balas “Oke” atau malah tidak balas sama sekali.

Bukan berarti suaminya itu cuek, bisa jadi karena kuota kata kata suaminya sudah habis. Alih-alih kesal, coba pahami bahwa cara mereka mengekspresikan diri memang berbeda. Dengan begitu, suasana hati di rumah lebih damai, anak pun tidak jadi pelampiasan emosi.

Ubah Cara, Bukan Perasaan

Komunikasi yang baik bukan berarti tidak boleh tegas, tapi bagaimana kita bisa tegas tanpa menyakiti. Maka orang tua harus mulai menyadari setiap kata yang keluar dari mulutnya. Kadang hanya perlu mengganti nada dan pilihan kata agar pesan itu dapat tersampaikan tanpa menimbulkan luka pad anak.

Baca Juga: PRINSIP DALAM MENDIDIK ANAK