4 Jenis Kebahagiaan Dalam Kehidupan Manusia Menurut Al-Qur’an

Pasangan muslim berdoa dengan khusyuk, cahaya langit menyinari, simbol dunia dan akhirat tergambar seimbang.
Doa dan ikhtiar seimbang antara dunia dan akhirat adalah kunci kebahagiaan sejati menurut Al-Qur’an.

4 Jenis Kebahagiaan Dalam Kehidupan Manusia Menurut Al-Qur’an – Setiap manusia tentu mendambakan kebahagiaan dan juga kesuksesan dalam hidupnya. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa kebahagiaan itu memiliki ragam bentuk dan tingkatan. Ada yang hanya berhenti di dunia, ada pula yang abadi hingga akhirat.

Pasangan muslim berdoa dengan khusyuk, cahaya langit menyinari, simbol dunia dan akhirat tergambar seimbang.
Doa dan ikhtiar seimbang antara dunia dan akhirat adalah kunci kebahagiaan sejati menurut Al-Qur’an.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 200–201 Alla berfirman:

 فَاِذَا قَضَيۡتُمۡ مَّنَاسِكَکُمۡ فَاذۡکُرُوا اللّٰهَ كَذِكۡرِكُمۡ اٰبَآءَکُمۡ اَوۡ اَشَدَّ ذِکۡرًا  فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ يَّقُوۡلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنۡيَا وَمَا لَهٗ فِى الۡاٰخِرَةِ مِنۡ خَلَاقٍ‏

وَمِنۡهُمۡ مَّنۡ يَّقُوۡلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنۡيَا حَسَنَةً وَّفِى الۡاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: ‏Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berzikirlah lebih dari itu. Maka di antara manusia ada orang berdoa, “Ya Tuhan Kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun.

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Dari ayat tersebut Allah membagi keadaan manusia ke dalam empat jenis berdasarkan orientasi kebahagiaan dan kesuksesannya.

1. Bahagia dan sukses di dunia sekaligus akhirat

Inilah golongan yang paling ideal. Mereka memohon kepada Allah, sebagaimana doa dalam Surah Al-Baqarah ayat 201:

رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنۡيَا حَسَنَةً وَّفِى الۡاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya, mereka tidak hanya mengejar kesuksesan dunia, tetapi juga menyiapkan diri untuk akhirat. Bahagia dalam keluarga, pekerjaan, dan kehidupan sosial, sekaligus tenang karena amalnya menjadi bekal menuju surga.

Golongan ini menyeimbangkan usaha duniawi dengan ibadah, sehingga hidupnya berkah dan penuh ketenteraman.

2. Bahagia dan sukses hanya di dunia

Sebagian manusia merasa cukup dengan kebahagiaan duniawi. Mereka fokus mencari harta, kedudukan, dan kesenangan, tanpa memperhatikan kehidupan setelah mati. Al-Qur’an menyebut tipikal manusia ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 200:

رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنۡيَا (Ya Allah, berilah kami di dunia). Doanya terhenti hanya pada urusan dunia, tanpa menyinggung akhirat.

Golongan ini mungkin terlihat sukses, punya rumah mewah, kendaraan bagus, bahkan karier yang cemerlang. Namun, semua itu tidak menjamin kebahagiaan yang abadi. Mereka lupa bahwa akhirat adalah kehidupan yang kekal.

Baca Juga:

3. Fokus akhirat, mengabaikan dunia

Ada pula orang yang orientasinya hanya akhirat. Mereka beribadah dengan penuh semangat, namun tidak berusaha memperhatikan kehidupan dunia. Padahal, dunia adalah ladang amal.

Bekerja, menafkahi keluarga, dan menjaga kesehatan juga bagian dari ibadah bila dilakukan dengan niat karena Allah.

Golongan ini bisa jadi masuk surga berkat amalnya, tetapi hidup di dunia terasa berat karena tidak diimbangi dengan ikhtiar. Islam sebenarnya mengajarkan keseimbangan: dunia dikejar tanpa melupakan akhirat, akhirat dicapai tanpa meninggalkan dunia.

4. Miskin dunia, fakir akhirat

Inilah golongan yang paling merugi. Mereka tidak memiliki kebahagiaan di dunia, amal pun tidak dipersiapkan untuk akhirat.

Hidupnya penuh kesulitan, ucapannya tidak terukur, tindakannya tidak terarah, bahkan terjerumus dalam perbuatan buruk. Akhirnya, dunia tidak mereka nikmati, akhirat pun tidak mereka raih.

Kunci meraih kebahagiaan: Ihsan dan Hasanah

Lalu bagaimana agar kita masuk ke golongan pertama? Kuncinya adalah Hasanah. Hasanah lahir dari perbuatan Ihsan yakni menjadikan setiap aktivitas sebagai ibadah karena Allah.

Bahkan hal sederhana seperti makan, minum, dan berpakaian bisa bernilai pahala jika dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah. Dari Ihsan lahir Hasanah, dari Hasanah hadir keberkahan, dan dari keberkahan tercapai kebahagiaan serta kesuksesan dunia akhirat.

Empat jenis kebahagiaan ini menjadi cermin bagi setiap kita. Apakah kita hanya sibuk mengejar dunia? Apakah kita lalai menyiapkan bekal akhirat? Atau kita sudah berusaha menyeimbangkan keduanya?

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan pertama bahagia di dunia, sukses di akhirat. Karena sejatinya, kebahagiaan sejati adalah saat hidup kita penuh berkah, menenangkan di dunia, dan mengantarkan pada surga yang kekal di akhirat.

Baca Juga: Integritas: Fondasi Kinerja di Kementerian Keuangan