3 Bentuk Orang Tua Durhaka Kepada Anaknya Dalam Pandangan Islam – Ketika kita membicarakan tentang durhaka, biasanya yang terlintas di pikiran kita adalah anak yang durhaka kepada orang tua. Namun, tahukah Anda bahwa orang tua pun bisa durhaka kepada anaknya? Ya dan bisa!, kedurhakaan itu ternyata bukan hanya dari satu arah.
Bahkan, para sahabat Nabi seperti Umar bin Khattab juga pernah menegaskan bahwa orang tua juga bisa durhaka jika tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan benar.
Lalu, seperti apa bentuk kedurhakaan orang tua terhadap anaknya sendiri? Mari kita renungkan bersama.

1. Salah Memilih Pasangan Hidup
Segala sesuatu itu pastinya dimulai dari pilihan saat pertama kalinya. Saat seseorang memilih pasangan hidupnya, maka sesungguhnya ia juga sedang menentukan masa depan anak-anaknya kelak.
Jika seorang ibu atau ayah memilih pasangan yang jauh dari agama, tidak bertanggung jawab, atau akhlaknya buruk. Maka dampaknya bukan hanya akan di rasakan oleh dirinya sendiri saja, tetapi juga dapat turun kepada sang anak.
Misalnya seorang suami yang lalai, kasar, atau tidak peduli dengan agama, maka akan memberi beban yang berat bagi istrinya dan sekaligus juga anak-anaknya.
Oleh karena itu, penting bagi siapa pun yang hendak menikah untuk benar-benar mempertimbangkan dari aspek agama, akhlak, dan tanggung jawab. Jika ia salah memilih pasangan sama saja dengan menghadirkan ujian yang besar bagi generasi berikutnya.
2. Memberikan Nama Yang Buruk
Nama bukan hanya sebatas panggilan. Di dalam Islam, nama itu adalah sebuah doa. Setiap kali orang tua menyebut nama anaknya, sesungguhnya itu adalah doa yang akan melekat sepanjang hidup.
Sayangnya, masih banyak orang tua yang memberi nama anaknya dengan sembarangan. Ya mungkin hanya karena ingin ikut tren atau terlihat unik, tanpa memikirkan makna di balik namanya tersebut.
Baca Juga:

Seni Mendidik Anak Perempuan: Memahami Fitrah, Emosi, & Gender (Part-2) https://sabilulhuda.org/seni-mendidik-anak-perempuan-memahami-fitrah-emosi-gender-part-2/
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda bahwa kelak manusia akan dipanggil dengan nama-namanya di akhirat. Maka bayangkan saja jika seorang anak ia diberi nama yang bermakna buruk, tentu itu bisa menjadi beban tersendiri baginya.
Sebaliknya, dengan memberi nama yang baik seperti Muhammad, Abdullah, Aisyah, atau Fatimah itu adalah warisan doa yang akan terus mengiringi dalam perjalanan hidup sang anak.
3. Tidak Mengajarkan Al-Qur’an
Bentuk kedurhakaan orang tua yang paling besar berikutnya adalah mereka lalai dalam mengenalkan dan mengajarkan Al-Qur’an kepada anaknya sendiri. Ada orang tua yang beralasan sibuk, ada juga yang merasa dirinya tidak bisa membaca Al-Qur’an.
Lalu pada akhirnya orang tua membiarkan anak-anaknya tumbuh dengan tanpa bimbingan agama yang memadai.
Padahal, meskipun orang tua itu tidak mampu untuk mengajarkan secara langsung, setidaknya mereka bisa mencarikan guru atau lingkungan yang mendukung anak tersebut belajar Al-Qur’an.
Jadi tidak ada alasan untuk membiarkan anak itu jauh dari Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an bukan hanya sebagai kitab suci, tetapi juga menjadi pedoman hidup yang akan menjadi pelita bagi anak hingga dewasa nantinya.
Lisan Yang Bisa Menjadi Doa Atau Luka
Selain tiga hal utama di atas, ada satu hal yang sering di lupakan oleh orang tua yaitu lisan. Banyak orang tua yang saat marah itu terbiasa dengan melontarkan kata-kata yang kasar kepada anak, bahkan sampai mendoakan keburukan. Padahal, doa seorang ibu dan ayah itu sangat mustajab.
Bayangkan saja jika setiap hari anak dipanggil dengan sebutan buruk seperti “setan”, “dajjal”, atau “nakal”. Kata-kata itu bisa tertanam dalam hati sang anak dan dapat mempengaruhi bagaimana mereka memandang dirinya sendiri.
Sebaliknya, jika orang tua membiasakan dengan doa-doa yang baik meskipun sedang marah, hal itu akan menjadi motivasi sekaligus keberkahan bagi anak.
Jadi memang menjadi orang tua itu adalah mengemban amanah yang besar. Tidak cukup orang tua hanya dengan memberi makan, pakaian, dan pendidikan formal. Lebih dari itu, orang tua juga di tuntut untuk memberikan teladan, mendoakan, dan membimbing yang benar kepada anak-anaknya.
Mari kita renungkan kembali sudahkah kita menjadi orang tua yang amanah? Sudahkah lisan kita menjadi doa yang baik bagi anak-anak? Karena pada akhirnya, doa, teladan, dan kasih sayang kitalah yang akan menentukan masa depan mereka.
Baca Juga: PRINSIP DALAM MENDIDIK ANAK













